Menggerakkan Ekowisata Berbasis Masyarakat sebagai Strategi Filantropi Berkelanjutan di FIFest 2025
Filantropi Indonesia Festival 2025 (FIFest2025) yang diselenggarakan pada 4–8 Agustus 2025 di Hotel Borobudur Jakarta menjadi ajang penting untuk mempertemukan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Festival ini mengusung tema besar “Budaya dan Ekosistem Filantropi untuk Dampak yang Lebih Baik: Membuka Potensi Filantropi untuk SDGs dan Agenda Iklim”, dengan tujuan memperkuat peran strategis filantropi dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan secara inklusif.
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah pada Sesi Paralel XIII: Menggerakkan Ekowisata Berbasis Masyarakat untuk Filantropi yang Berdampak, yang berlangsung di Ruang Banda B dengan kuota terbatas sebanyak 50 peserta. Peserta berasal dari komunitas, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, serta mahasiswa dari berbagai kampus, yang datang dengan antusias untuk mendiskusikan peran ekowisata dalam keberlanjutan.
Acara dibuka oleh Ahmad Zakky Habibie, Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memajukan ekosistem filantropi. Ia menyebut bahwa ekowisata berbasis masyarakat dapat menjadi salah satu pendekatan strategis untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan secara bersamaan.
Setelah itu, diskusi dilanjutkan dengan paparan dari sejumlah pembicara lintas sektor. Marjaldi Loeis, Senior Associate dari IPMI International Business School, menekankan pentingnya peran akademisi dalam memperkuat sinergi antaraktor yang terlibat dalam ekosistem ekowisata. Menurutnya, penelitian, kurikulum pendidikan, serta pendampingan berbasis riset dapat menjadi pondasi kuat dalam merancang strategi keberlanjutan. Ia juga menekankan bahwa ekowisata bukan hanya tanggung jawab praktisi di lapangan, tetapi juga perlu dukungan ilmu pengetahuan dan kebijakan yang berbasis data.
Dari sudut pandang organisasi lingkungan, Dwinda Nafisah, Journey Lead Sebumi, berbagi pengalaman langsung tentang pendampingan masyarakat lokal dalam mengelola potensi wisata alam. Ia menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan destinasi wisata adalah kunci keberhasilan. Pengalaman Sebumi di beberapa daerah membuktikan bahwa ketika warga memiliki rasa kepemilikan, mereka lebih berkomitmen menjaga kelestarian alam sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi.
Perspektif dunia usaha disampaikan oleh Aji Suryanto dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara, yang menekankan kontribusi perusahaan dalam mendukung penguatan ekosistem ekowisata berkelanjutan. Menurutnya, peran sektor swasta tidak hanya terbatas pada tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan juga investasi jangka panjang yang dapat menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat sekitar lokasi usaha.
Sementara itu, Meity Mongdong, Papua Conservation Strategy Director Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia, menyoroti praktik konservasi berbasis komunitas yang telah berhasil diterapkan di Papua. Ia mencontohkan bagaimana pengelolaan hutan dan laut oleh masyarakat adat mampu menjaga ekosistem sekaligus membuka peluang ekowisata yang berorientasi pada kearifan lokal. Hal ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dan lingkungan bisa berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Tak kalah menarik, Iben Yuzenho, Co-Founder sekaligus CEO Sejiva, menekankan pentingnya inovasi teknologi dalam promosi dan manajemen destinasi ekowisata. Dengan memanfaatkan teknologi digital, komunitas lokal dapat memperluas akses pasar, mempromosikan destinasi secara global, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan. Ia menambahkan bahwa generasi muda memiliki peran vital dalam membawa ide-ide segar untuk menghubungkan tradisi lokal dengan tren pariwisata berkelanjutan.
Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Beberapa di antaranya menyoroti strategi pendanaan untuk ekowisata komunitas, peluang kerja sama lintas sektor, hingga tantangan dalam menghadapi tekanan modernisasi. Peserta dari komunitas lokal juga berbagi cerita tentang perjuangan mereka menjaga kelestarian alam sembari mengembangkan potensi wisata. Antusiasme ini mencerminkan semakin besarnya kesadaran bahwa ekowisata tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menyangkut kelestarian generasi mendatang.
Melalui sesi ini, FIFest2025 menegaskan bahwa ekowisata berbasis masyarakat bukan hanya tentang pariwisata, melainkan tentang menciptakan keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan kemandirian ekonomi lokal. Kolaborasi lintas sektor yang terjalin dalam forum ini diharapkan mampu melahirkan inisiatif nyata untuk memperkuat ekosistem ekowisata di Indonesia sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang. Dengan adanya komitmen dari pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, dan filantropi, ekowisata berpotensi menjadi motor penggerak transformasi menuju pembangunan berkelanjutan yang inklusif.
Dokumentasi kegiatan


Comments
Post a Comment