Jangan sering marah-marah, nanti cepet tua :)

 Langkah Sederhana untuk Meredam Api Amarah dalam Perspektif Islam


Oleh: Siti Nurlani

    Jangan sering marah-marah, nanti cepet tua. Pasti kalimat tersebut seringkali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, katanya kalau kita sering marah-marah itu akan membuat tensi darah kita naik, dan bahkan ada yang mengatakan jika kita sering marah dan emosi menyebabkan kita cepat tua. Emosi adalah bagian alami dari pengalaman manusia, termasuk rasa marah. Dalam Islam, amarah atau ghadhab dianggap sebagai emosi yang perlu dikendalikan agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Amarah yang tidak terkendali dapat memicu tindakan atau ucapan yang menimbulkan dosa dan kerusakan, baik dalam hubungan sosial maupun dalam aspek kehidupan lainnya. Maka, Islam memberikan pedoman bagaimana cara mengontrol amarah untuk menjaga ketenangan hati dan menjalankan kehidupan yang penuh dengan kasih sayang serta ketakwaan kepada Allah.

1. Pengertian Amarah dalam Islam

    Dalam Islam, amarah didefinisikan sebagai emosi yang muncul akibat ketidakpuasan, ketidakadilan, atau ketidaksetujuan terhadap suatu peristiwa atau tindakan. Emosi ini, jika dibiarkan, dapat memicu perilaku destruktif dan menghalangi seseorang dari berpikir jernih dan bertindak dengan hikmah (kebijaksanaan). Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah marah, maka bagimu surga" (HR. Thabrani). Ini menunjukkan bahwa mengendalikan amarah adalah tindakan yang sangat dihargai dalam Islam.

2. Dampak Amarah yang Tidak Terkontrol

    Amarah yang tidak terkendali dapat mengganggu hubungan sosial, merusak keimanan, dan menimbulkan penyesalan. Rasulullah SAW memperingatkan bahwa emosi ini adalah salah satu senjata setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Dan api itu hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka, apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu" (HR. Abu Dawud).

3. Cara Mengontrol Amarah dalam Perspektif Islam

Islam memberikan beberapa cara efektif untuk mengendalikan amarah:

a. Mengingat Allah (Dzikir)

    Langkah pertama yang diajarkan Islam untuk menenangkan amarah adalah dengan mengingat Allah. Dalam Al-Qur'an disebutkan, "... orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain" (QS. Ali Imran: 134). Dzikir dapat membantu hati menjadi lebih tenang dan membawa kita kepada pemahaman bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah.

b. Mengubah Posisi

    Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengubah posisi saat marah sebagai cara menenangkan diri. Beliau bersabda, "Jika kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika belum reda, maka berbaringlah" (HR. Abu Dawud). Dengan mengubah posisi, kita mengurangi ketegangan fisik yang mungkin memperburuk emosi dan membantu untuk lebih tenang.

c. Berwudhu

    Karena amarah berasal dari api, maka memadamkannya dengan air melalui berwudhu adalah salah satu anjuran Rasulullah. Berwudhu tidak hanya menenangkan tubuh tetapi juga mengingatkan kita akan kesucian dan ketakwaan, sehingga hati kita dapat kembali jernih dan tenang.

d. Mengingat Akibat Amarah yang Tidak Terkontrol

    Menyadari dampak buruk yang dapat terjadi akibat amarah juga merupakan cara efektif untuk mengendalikannya. Dalam Islam, seseorang diajarkan untuk berpikir panjang sebelum bertindak atau berbicara, terutama saat emosi memuncak. Mempertimbangkan konsekuensi amarah dapat membantu kita untuk lebih sabar dan bersikap bijaksana.

e. Memaafkan dan Bersabar

    Islam sangat menekankan pentingnya pemaafan. Memaafkan orang lain dan bersabar adalah ciri utama orang bertakwa. Dengan memaafkan, kita membebaskan diri dari rasa dendam dan menjauhkan diri dari kemarahan yang berlarut-larut. Allah berfirman, "...Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu... bagi orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain" (QS. Ali Imran: 133-134).

Amarah adalah emosi yang perlu dikendalikan dalam Islam, baik untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial maupun menjaga ketakwaan diri. Dengan berpegang pada ajaran Islam yang mencakup dzikir, mengubah posisi, berwudhu, dan memaafkan, seseorang dapat meredam amarahnya dengan baik. Mengendalikan emosi adalah bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah, serta membantu kita mencapai kehidupan yang damai dan penuh kasih sayang.



Comments

Popular posts from this blog

Hujan turun di satu titik, benarkah itu ulah anak GFM yang sedang praktikum mindahin awan :))

Sudahkah kamu berterimakasih pada ibumu hari ini?

Meghatrust